Betapa banyak fresh graduate yang tadinya begitu menggebu-gebu dan berbangga diri sudah berhasil mengantongi ijazah sarjana. Dalam angan terbayang bahwa masa depan sudah terjamin. Jalan untuk menjadikan impian demi impian hidup menjadi kenyataan seakan sudah berada di telapak tangan. Namun, begitu mulai menelusuri kantor demi kantor dengan membawa surat lamaran kerja, ternyata satu demi satu mengalami penolakan.
Dengan berbagai alasan:
- Tidak ada lowongan pekerjaan
- Posisi yang ada tidak sesuai dengan ijazah yang dikantongi
- Perusahaan membutuhkan orang yang berpengalaman
- Perusahaan memerlukan tenaga yang siap pakai
- Bukan pemegang ijazah yang masih harus dididik cara kerja
- Lowongan pekerjaan ”terlalu rendah” dibandingkan dengan ijazah di tangan
- Gaji tidak sesuai harapan
- Pekerjaan tidak sesuai dengan jurusan studi yang dipelajari
Putus asa dan tidak lagi mau berusaha. Karena pikiran sudah tertumpu pada satu titik bahwa kalau ijazah di bidang hukum, mana mungkin bekerja di bidang bisnis. Kalau background pendidikan di jurusan tehnik mesin, masa iya bekerja di bidang keuangan. Cara berpikir seperti ini adalah sikap mental yang keliru karena secara langsung ataupun tidak sudah membatasi diri dan mempersempit ruang hidup. Sudah memberikan patokan atau batasan pada diri sendiri bahwa kalau pekerjaan yang ada tidak sesuai dengan latar belakang pendidikansaya maka saya akan mengatakan ”No ,way!”.
Kalau Perlu Ijazah Dilipat dan Disimpan Dalam Lemari
Teman saya, Syamsul asal Maninjau, Sumatera Barat, datang ke Australia dengan berbekal ijazah insinyur pertanian dengan harapan dan bayangan bahwa di Australia pasti ilmu di bidang ini sangat dibutuhkan mengingat luasnya tanah tanah pertanian dan perkebunan di negeri ini. Namun, ternyata setelah bekerja sebagai insinyur sesuai bidangnya, gaji yang diterima jauh dari mencukupi. Setahun bekerja dan tidak memiliki tabungan yang berarti. Padahal, Syamsul bercita-cita kerja keras di negeri orang, agar bisa menabung dan kelak membangun rumah di kampung. Namun, karena belum mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik, Syamsul tetap bertahan.
Suatu waktu, ada lowongan sebuah hotel berbintang, mencari tenaga juru masak. Nah, di Sumatera Barat umumnya, laki laki perempuan pintar memasak. Syamsul mencoba melamar. Dites dan lulus. Gajinya tiga kali lipat dari gaji sebagai insinyur.
“Ambo lipek Ijazah Insinyur dan masukan ke dalam kotak. Ternyata indak bisa iduik mangandalkan Ijazah,“ (Saya lipat ijazah insinyur dan masukkan ke dalam kotak. Ternyata tidak bisa hidup dengan mengandalkan ijazah), kata Syamsul sewaktu kami ketemu di pertemuan Komunitas Indonesia di Wollongong. 3 tahun bekerja sebagai Juru Masak.
Membangun Rumah di Kampung dengan Gaji sebagai juru Masak
Kabar terakhir, Syamsul sudah jadi Chef Leader di restoran yang berada di Hotel Bintang 4, berlokasi di pinggir pantai Kota Wollongong. Kalau gaji sebagai insinyur pertanian, 3000 dolar per bulan, berarti gaji sebagai Chef leader sekitar 9.000 dolar atau sekitar 90 juta rupiah per bulan. Saya tidak tanyakan secara menjelimet. Karena walaupun kami berteman, tentu ada batas batas koridor yang tidak boleh dilangkahi, yakni hal-hal yang bersifat sangat pribadi, kecuali yang punya diri menceritakannya.
Seandainya Syamsul bersikukuh bekerja harus sesuai ijazah yang dikantongi, nasibnya tidak akan berubah, apalagi mampu membangun rumah di kampung seperti impiannya.
Kesimpulan: pendidikan di bangku kuliah adalah upaya untuk membentuk karakter dan mempertajam daya pikir dan wawasan kita, bukan malah hidup kita dipatok oleh selembar kertas yang namanya ijazah. Sekali lagi, bukan ijazah yang menentukan sukses tidaknya hidup kita, melainkan sikap mental kita.

0 Response to "Sikap Mental akan Mengubah Nasib, Bukan Ijazah"
Posting Komentar